Dengan kemampuan logika dan nalar deduktif yang kita miliki dalam periode masa mana pun jua, kita tidak mungkin menyatakan pengetahuan yang kita miliki sebagai suatu kebenaran yang bersifat mutlak.
Masalah-masalah yang akan kita bahas berkaitan dengan instrumen yang akan menuntun kita kepada ilmu pengetahuan dan cara untuk menentukan bahwa pengetahuan tersebut dapat dianggap sebagai suatu kebenaran. Jika semua sudut pandang manusia ditempatkan di suatu landasan yang bergerak, dengan perubahan konstan pada sudut pandangan, bagaimana menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau seberkas informasi yang kita miliki dapat dinyatakan secara pasti sebagai kebenaran? Ada pula sudut pandang lain yaitu dari Tuhan sang Maha Pencipta yang bersifat kekal dan konstan. Karena itu jika bisa dibuktikan bahwa eksistensi Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Ada memang benar adanya, dimana Dia itu bersifat Kekal, Tanpa Kesalahan, Transendental, Maha Perkasa dan Pemilik segala fitrat mutlak, maka hanya dengan cara satu-satunya itulah dapat digapai ilmu pengetahuan tentang kebenaran abadi melalui Wujud-Nya. Hanya saja hipothesa ini bersifat kondisional berdasarkan premis bahwa tidak saja Wujud Maha Sempurna itu memang eksis, tetapi Dia juga memang membuka jalur komunikasi dengan manusia. Adalah komunikasi antara Tuhan dengan manusia itulah yang dalam terminologi keagamaan disebut sebagai wahyu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar