Mutiara Ma'rifat 2

on Kamis, 04 Agustus 2016


Sebuah Tanda:
Dalam Barāhīn Ahmadiyyah terdapat satu nubuatan di dalam bahasa Urdu yang berbunyi: 

میں اپنی چمکار دکھلاؤںگا اپنی قُدرت نمائی سے تجھ کو اُٹھا ؤںگا – دنیا میں ایک نزیر آیا  پر دنیا نےاسکو قبوگ نہ کیا لیکن خدا اسکو قبول کریگا اور بڑے زور آور حملوں کے ساتھ اسکی سچائی ظاھر کردیگا-

“Aku akan perlihatkan kilauan-Ku. Dengan penampakan kudrat-Ku Aku akan mengangkat [derajat] engkau. Di dunia telah datang seorang pemberi ingat, namun dunia tidak menerimanya. Tuhan akan menerimanya dan dengan serangan yang sangat dahsyat Dia akan menunjukkan kebenarannya.”

Nubuatan ini diwahyukan kepadaku 25 tahun yang lalu di saat aku bukan siapa-siapa. Kesimpulan dari nubuatan ini adalah, disebabkan oleh penentangan yang sangat keras, tidak ada faktor-faktor pendukung yang nampak untuk mewujudkan berdirinya jama’ah ini, baik dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Akan tetapi Allah Ta’ala akan menarik dunia ke arah jama’ah ini dengan tanda-tanda-Nya yang bersinar dan akan memperlihatkan goncangan-goncangan yang dahsyat untuk mendukung kebenaranku. Salah satu dari antara goncangan–goncangan itu adalah wabah Ta’un yang telah dikabargaibkan beberapa lama sebelumnya. Dari antara goncangan–goncangan itu juga berwujud dalam bentuk gempa-gempa bumi yang sedang berkecamuk di dunia ini — entah goncangan apa lagi yang akan datang berikutnya? Tidak ada keraguan sedikit pun, sebagaimana telah diterangkan dalam nubuatan ini, bahwa Allah Jalla Sya’nuhu telah mendirikan jama’ah ini dengan penampakkan qudrat-Nya. Jika tidak demikian, [mengapa] begitu cepatnya ratusan ribu orang bergabung denganku, padahal aku mendapat perlawanan yang sedemikian rupa dari kaumku? Ini merupakan salah satu dari perkara yang mustahil. Para penentang kemudian melakukan daya upaya yang lebih hebat lagi, namun itu tidak menghalangi sedikit pun dalam pemenuhan kehendak Allah Ta’ala.

Sebuah Tanda:
Sebuah tanda yang sudah tercantum dalam Barāhin Ahmadiyyah  halaman 555 dan telah diterbitkan berbunyi:

وَکَذلك مَنَّنَا عَلَی یُوْسُفَ لِنصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَاْلفَحْشَاَء وَلِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّا اُنْذِرَ آبَآءَهُمْ فَهُمْ  غَافِلُوْنَ

“Demikianlah Kami telah berbuat ihsan kepada Yusuf disertai dengan tanda-tanda Kami, agar ia selamatdari keburukan dan aib yang akan dinisbahkan kepadanya. Dengan itu pula Kami akan menyelamatkan engkau dan supaya disebabkan keluhuran tanda-tanda itu engkau dapat menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai. Sesungguhnya nasihat orang yang dianugerahi kemuliaan dan keistimewaan oleh Allah, akan membekas dalam hati.”
(Lihat Barāhīn Ahmadiyyah, halaman 555)

     Pada tempat ini Allah menamaiku Yusuf. Ini merupakan satu nubuatan yang berarti bahwa sebagaimana saudara-saudara YusufAs telah menganiaya Yusuf karena kebodohan mereka, dan tidak melewatkan cara apa pun dalam upaya membinasakannya, Allah Ta’ala berfirman, seperti itu pulalah yang akan terjadi [sehubungan dengan lawan-lawanku]. Itu juga mengisyaratkan bahwa untuk menghancurkan dan membinasakanku mereka yang memiliki ikatan kekerabatan denganku akan melakukan berbagai tipudaya yang besar, namun pada akhirnya mereka tidak akan berhasil. Tuhan akan membukakan kepada mereka bahwa orang yang ingin mereka hinakan itu, telah Dia karuniai dengan mahkota kehormatan. Barulah akan terbuka kepada orang-orang itu bahwa selama ini mereka berada dalam kekeliruan. Dia berfirman dalam wahyu yang lain:
  
یَخِرُّوْنَ عَلَی اْلاَذْقَانِ سُجَّدًا رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا اِنَّا کُنَّا خَطِئِیْنَ  تَالله لَقَدْ اَثَرَكَ اللهُ عَلَیْنَا وَ اِنْ کُنَّا لَخِاطِئِیْنَ ط-  لَا تَثْرِیْبَ  عَلَیْکُمُ اْلیَوْمَ  یَغْفِرُ الله لَکُمْ وَھُوَ اَرْحَمٌ الرَّحِمِیْنَ

Mereka akan menjatuhkan diri dalam sujud dan berkata, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami, karena selama ini kami berada dalam lumpur dosa. Mereka akan mengatakan kepada engkau, ‘Demi Allah, engkau telah dipilih oleh Allah dari antara kami, dan sedari dulu kami adalah kaum yang berdosa. Barulah Allah akan berfirman kepada orang-orang yang bertobat itu, “Pada hari ini tidak ada pembalasan bagi kalian, disebabkan kalian telah beriman. Allah akan mengampuni kalian atas segala kesalahan yang telah kalian lakukan, karena Dia-lah Yang paling Pengasih dari antara yang pengasih."

     Walhasil, dalam nubuatan ini diterangkan dua perkara gaib:  
Pertama, pada zaman yang akan datang akan muncul penentang-penentang keras dari kaum ini dan dalam diri mereka akan bergejolak bara api kedengkian sebagaimana bergejolaknya kedengkian dalam diri saudara-saudara Yusuf. Lalu mereka akan menjadi penentang keras dan akan melakukan berbagai makar untuk menghancurkan dan membinasakanku. --(Hal. 271) Hal yang menyatakan bahwa dari antara kaum akan terlahir para penentang yang akan melakukan rencana kejahatan-kejahatan yang besar. Ini adalah satu nubuatan karena kabar ini tercantum dalam Barāhin Ahmadiyyah yang telah berlalu 25 tahun. Pada saat itu di antara kaumku tidak ada penentang, dan kitab Barāhīn Ahmadiyyah pun belum diterbitkan. Lalu apakah yang menjadi penyebab penentangan itu? Tidak diragukan lagi bahwa pada suatu zaman nanti akan muncul musuh-musuh yang kejam yang sebelumnya, sebagai buah dari ukhuwah Islamiyah, seakan bersaudara dengan kami. Ini merupakan perkara gaib yang telah dikabarkan oleh Allah Ta’ala sebelum hal itu terjadi, dan tercantum juga dalam Barāhīn Ahmadiyyah.

Kedua, Perkara gaib dalam nubuatan ini adalah pemberitahuan bahwa hasil akhir penentangan ini akan menjadikan musuh-musuh itu merugi dan banyak sekali di antara mereka yang akan tobat kembali seperti tobatnya saudara-saudara Nabi Yusuf As sehingga pada saat itu seperti hal nya Nabi Yusuf As, Allah Ta’ala akan memakaikan mahkota kemuliaan kepada hamba yang lemah ini (maksudnya Hazrat Masih Mau’ud As-Pen.) dan akan menganugerahkan kemuliaan dan kesucian yang tak disangka-sangka sebelumnya. Untuk itu banyak sekali bagian dari nubuatan ini yang telah tergenapi karena musuh-musuh yang menghendaki kematianku telah bermunculan, dan pada hakikatnya orang-orang ini lebih buruk lagi dari saudara-saudara YusufAs dalam hal kenekatannya.

     Jadi, Allah Ta’ala telah menjadikan ratusan ribu orang menjadi pengikutku lalu menganugerahkan kehormatan dan kemuliaan yang khas kepadaku, dan menghinakan musuh-musuh.
Akan tiba masanya Allah dimana Ta’ala menaikkan derajatku lebih  tinggi lagi dan orang-orang yang berfitrat baik di antara para penentang, terpaksa akan mengatakan,رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا اِنَّا کُنَّا خَاطِئِیْنَ   “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami,” dan terpaksa akan mengatakan pula:تَاللهِ لَقَدْ اَثَرُكَ اللهُ عَلَیْنَا, “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah memuliakan engkau atas kami.”

Sebuah Tanda: 
Ada sebuah nubuatan dalam buku Barāhin Ahmadiyyah yang berbunyi:
اِنَّا اَعْطَیْنَاكَ اْلکَوْثَرْط- ثُلَّةٌ مِنَ اْلاَوَّلِیْنَ وَ ثُلَّةٌ مِنَ اْلَاخِرِیْنَ

Kami akan menganugerahkan jamaah yang banyak kepadamu. Pertama, satu kelompok pertama yang akan beriman sebelum turunnya musibah. Kedua, kelompok lain yang akan beriman setelah datangnya tanda-tanda Tuhan yang dahsyat.”
     
     Kami telah menuliskan berkali-kali sekian banyak nubuatan yang terdapat dalam Barāhīn Ahmadiyyah, yang telah berlangsung dalam kurun waktu 25 tahun lamanya. Nubuatan-nubuatan itu turun pada masa ketika tak ada seorang pun yang menyertaiku. Jika keterangan ini keliru, dapat anggaplah seluruh pendakwaanku adalah batil. (Hal. 272) Jadi, jelaslah bahwa nubuatan ini pun tercantum dalam Barāhīn Ahmadiyyah, ketika aku dalam masa-masa kesendirian dan tak berdaya. pada waktu itu aku mengabarkan akan datangnya suatu zaman ketika ribuan orang akan berbaiat kepadaku. Di masa ini nubuatan itu tergenapi. Selain Allah Ta’ala, tak ada yang mampu mengabarkan suatu kabar gaib apa pun. Ilmu gaib (sifat Ālimul-Ghaib-Pen.) merupakan kekhasan Allah Ta’ala. Namun saat ini dalam pandangan para penentang kita sifat Ālimul-Ghaib [seakan-akan] bukan lagi merupakan kekhasan Allah Ta’ala. [Jika demikian] lihat saja bagaimana mereka akan mengalami kemajuan.


0 komentar:

Posting Komentar